Oleh: Ismie Hilaly (Runa)
Perempuan tua itu duduk bersandar di atas kursi kayu. Menatap keluar jendela yang telah dirasuki malam. Matanya memang selalu begitu. Semenjak ia hadir di rumah kami setahun lalu, aku bahkan tidak pernah melihat ia mengangkat kelopak matanya lebih dari ini. Mata yang lelah ditumbuhi pilu sejak ia dilahirkan hanya sebagai sepotong daging. Di usia rentanya kini, ia baru setahun terakhir menikmati gelap malam. Maka matanya memang selalu begitu. Menatap sendu malam di luar sana. Malam yang dahulu senantiasa ia lewatkan begitu saja karena terlalu berharap matahari muncul lagi. Ia tak pernah membenci malam. Hanya, tiap kali matahari beranjak mati meninggalkan hari, begitu pula ia. Perempuan itu akan selalu jadi manusia mati sepanjang malam. Hingga pagi membangkitkannya lagi. Meskipun, baginya hidup adalah kematian.
Perempuan tua itu duduk bersandar di atas kursi kayu. Menatap keluar jendela yang telah dirasuki malam. Matanya memang selalu begitu. Semenjak ia hadir di rumah kami setahun lalu, aku bahkan tidak pernah melihat ia mengangkat kelopak matanya lebih dari ini. Mata yang lelah ditumbuhi pilu sejak ia dilahirkan hanya sebagai sepotong daging. Di usia rentanya kini, ia baru setahun terakhir menikmati gelap malam. Maka matanya memang selalu begitu. Menatap sendu malam di luar sana. Malam yang dahulu senantiasa ia lewatkan begitu saja karena terlalu berharap matahari muncul lagi. Ia tak pernah membenci malam. Hanya, tiap kali matahari beranjak mati meninggalkan hari, begitu pula ia. Perempuan itu akan selalu jadi manusia mati sepanjang malam. Hingga pagi membangkitkannya lagi. Meskipun, baginya hidup adalah kematian.
Aku mengetahui separuh guratan kisah di keriputnya karena aku
pernah hidup cukup lama dengannya. Ni Uweung, begitu ia disebut orang-orang.
Kulit hitamnya jadi alasan mereka memanggilnya begitu. Bahkan perempuan yang
pernah melahirkannya memanggil Uweung sejak ia kanak-kanak. Ia tak pernah
dipanggil dengan nama aslinya, Siti Rukoyah.
Kanak-kanak? Uweung tak pernah tahu artinya. Seumur hidup ia mesti
mengurus kebon dan ibu bapaknya sebagai satu-satunya anak yang
bertahan hidup di gubuk panggung itu. Ketujuh kakaknya perempuan, satu persatu
berhasil melarikan diri dengan menggoda pemuda desa seberang untuk menikahinya.
Beruntung kakaknya yang tak tahu peduli apa itu, karena di gubuk itu masih ada
bapak yang tak pernah sedikitpun menyentuh kulit mereka kecuali dengan tamparan
dan pukulan kayu kelapa. Cambukan rotan, bahkan belaian pisau dapur dan colekan
gemas ujung rokok. Bapak mungkin tak pernah merasa punya anak. Baginya,
perempuan-perempuan di gubuk itu hanya budak-budak yang akan memenuhi segala
kebutuhannya. Budak-budak yang perlu ia cekoki makanan setiap hari, hanya agar
mereka tak kehabisan tenaga mengurusnya.
Bapak pulang setiap menjelang gelap, dan secangkir kopi panas
harus telah tersaji. Pernah sekali bertahun lalu, ibu terlambat pulang mandi
dari sungai. Bapak mendahuluinya sampai ke rumah dan Uweung kecil belum bisa
menyajikan kopi enak buat lidah bapak. Tangan kecil Uweung dirampas dan
dihempas ke lantai tanah pawon.
“Buat lagi! Mana Patimah?” wajahnya begitu tenang bahkan setelah
melempar gelas berkopi panas ke tubuh kecil Uweung.
“Tidak tahu, pak. Ibu tadi…pergi mandi ke sungai.”
Pintu depan berderit. Bapak mulai terlihat uratnya yang tertahan
di balik kulit pelipis. Segera ia berjalan mantap menuju pintu depan. Tanpa
perlu membawa benda apapun, tangannya telah gemas menjambak rambut panjang
Patimah.
“Sering sekali kamu mandi! Mau jadi penggoda lelaki sekampung?!”
Malam beranjak menggelapkan seisi gubuk yang tak mungkin ia sebut
rumah. Uweung tak berani menyalakan cempor minyak yang tergantung
pada bilik. Biar. Biar malam mengaburkan pemandangan itu. Hanya jeritan dan
perlawanan Patimah yang sampai ke telinga Uweung, yang saling susul dengan
hantaman di tubuh dan tulang yang meretak. Patimah dibuang ke sudut bilik.
Habis sudah dialog kedua tubuh itu.
Uweung sedikit lega pria bengis itu tengah tak selera melanjutkan
perbincangan sepanjang malam. Tapi memang begitu adatnya. Kelakuannya telah
jadi nyanyian pengiring jangkrik setiap malam. Itu hanya berhenti beberapa jam
selama laki-laki itu tenggelam dalam kantuk.
Pria itu bahkan rutin bangun tiap tengah malam, untuk kembali
sarapan saat paginya. Orang-orang bilang ia selalu berkunjung ke rumah biduan
nakal dan lelaki lapar bertemu. Setelah pria itu terpenuhi dahaganya, ia pulang
untuk memalak makanan pagi dari perempuan yang ia nikahi. Uweung tahu Patimah
memang tak pernah mau berdiam diri. Bagaimanapun, Patimah adalah istrinya. Ia
selalu melawan, meminta keadilan. Tapi apalah, tentang perempuan gubuk itu
baginya hanya kicauan burung meronta di sangkar ketika ia sedang sakit gigi.
Nyanyiannya tak indah sama sekali, hanya kicauan yang mengusik pagi. Maka ia
bisa dengan mudah dan senangnya melumat tulang-tulang kecil burung itu jika ia
merasa terganggu. Habislah Patimah yang tak punya kuasa lagi. Habislah Patimah
yang hati dan jantungnya telah dicincang dan diiris tipis. Tubuhnya habis
diremuk kayu kelapa yang telah jadi tersangka bisu komplotan si bengis.
Patimah lumpuh. Ia disembunyikan di gubuk itu bersama Uweung yang
masih bau kencur. Kini beban bertambah dipikulnya. Mengurus ibunya, juga lelaki
gila yang takkan pernah ia panggil bapak lagi. Uweung mulai mengenal kebencian.
Ia benci lelaki. Maka semenjak itu ia terus menanti waktu, hari baik. Menanti
ibunya sekarat, maka sebilah besi yang bertahun ia tajamkan akan memulai
pemberontakan.
Tak perlu waktu lama, luka ibunya makin membusuk. Memakan habis
daging dan nyawa ibu karena dibiarkan tak diobati. Malam itu juga, Uweung
membiarkan si gila habis-habisan melukai tubuh remaja Uweung hingga lelah.
Biar. Uweung bahkan menikmatinya karena itu akan jadi luka terakhir dari si
gila. Ketika malam di peraduannya bersama pagi, besi tajam itu melakukan
tugasnya. Si gila meronta dan terkapar, dengan luka sayatan dalam di lehernya.
Tak ada lagi yang bernyawa di gubuk itu selain Uweung.
***
“Anak cantik, berbahagialah. Cukup aku yang memakan taik
kehidupan,” aku sempat mendengarnya bicara sendiri suatu malam. Ketika ia duduk
di atas kursi kayu sambil menatap ke luar jendela saat malam pernikahanku.
Rumah itu telah siap dengan berbagai dekorasi putih dan merah muda. Semua lampu
dinyalakan, terang. Tapi hanya Uweung yang terlihat suram. Saat itu dua puluh
tahun sebelum aku mengerti, apa yang menjadi gerutu sepinya kala itu. Ah,
ibuku. wanita tua kelelahan dengan pilunya sendiri.
***
Cianjur, 2016.
Cianjur, 2016.