Jumat, 05 Agustus 2016

Calar

Oleh: Ismie Hilaly (Runa)


Perempuan tua itu duduk bersandar di atas kursi kayu. Menatap keluar jendela yang telah dirasuki malam. Matanya memang selalu begitu. Semenjak ia hadir di rumah kami setahun lalu, aku bahkan tidak pernah melihat ia mengangkat kelopak matanya lebih dari ini. Mata yang lelah ditumbuhi pilu sejak ia dilahirkan hanya sebagai sepotong daging. Di usia rentanya kini, ia baru setahun terakhir menikmati gelap malam. Maka matanya memang selalu begitu. Menatap sendu malam di luar sana. Malam yang dahulu senantiasa ia lewatkan begitu saja karena terlalu berharap matahari muncul lagi. Ia tak pernah membenci malam. Hanya, tiap kali matahari beranjak mati meninggalkan hari, begitu pula ia. Perempuan itu akan selalu jadi manusia mati sepanjang malam. Hingga pagi membangkitkannya lagi. Meskipun, baginya hidup adalah kematian.

Aku mengetahui separuh guratan kisah di keriputnya karena aku pernah hidup cukup lama dengannya. Ni Uweung, begitu ia disebut orang-orang. Kulit hitamnya jadi alasan mereka memanggilnya begitu. Bahkan perempuan yang pernah melahirkannya memanggil Uweung sejak ia kanak-kanak. Ia tak pernah dipanggil dengan nama aslinya, Siti Rukoyah.

Kanak-kanak? Uweung tak pernah tahu artinya. Seumur hidup ia mesti mengurus kebon dan ibu bapaknya sebagai satu-satunya anak yang bertahan hidup di gubuk panggung itu. Ketujuh kakaknya perempuan, satu persatu berhasil melarikan diri dengan menggoda pemuda desa seberang untuk menikahinya. Beruntung kakaknya yang tak tahu peduli apa itu, karena di gubuk itu masih ada bapak yang tak pernah sedikitpun menyentuh kulit mereka kecuali dengan tamparan dan pukulan kayu kelapa. Cambukan rotan, bahkan belaian pisau dapur dan colekan gemas ujung rokok. Bapak mungkin tak pernah merasa punya anak. Baginya, perempuan-perempuan di gubuk itu hanya budak-budak yang akan memenuhi segala kebutuhannya. Budak-budak yang perlu ia cekoki makanan setiap hari, hanya agar mereka tak kehabisan tenaga mengurusnya.

Bapak pulang setiap menjelang gelap, dan secangkir kopi panas harus telah tersaji. Pernah sekali bertahun lalu, ibu terlambat pulang mandi dari sungai. Bapak mendahuluinya sampai ke rumah dan Uweung kecil belum bisa menyajikan kopi enak buat lidah bapak. Tangan kecil Uweung dirampas dan dihempas ke lantai tanah pawon.

“Buat lagi! Mana Patimah?” wajahnya begitu tenang bahkan setelah melempar gelas berkopi panas ke tubuh kecil Uweung.

“Tidak tahu, pak. Ibu tadi…pergi mandi ke sungai.”

Pintu depan berderit. Bapak mulai terlihat uratnya yang tertahan di balik kulit pelipis. Segera ia berjalan mantap menuju pintu depan. Tanpa perlu membawa benda apapun, tangannya telah gemas menjambak rambut panjang Patimah.

“Sering sekali kamu mandi! Mau jadi penggoda lelaki sekampung?!”

Malam beranjak menggelapkan seisi gubuk yang tak mungkin ia sebut rumah. Uweung tak berani menyalakan cempor minyak yang tergantung pada bilik. Biar. Biar malam mengaburkan pemandangan itu. Hanya jeritan dan perlawanan Patimah yang sampai ke telinga Uweung, yang saling susul dengan hantaman di tubuh dan tulang yang meretak. Patimah dibuang ke sudut bilik. Habis sudah dialog kedua tubuh itu.

Uweung sedikit lega pria bengis itu tengah tak selera melanjutkan perbincangan sepanjang malam. Tapi memang begitu adatnya. Kelakuannya telah jadi nyanyian pengiring jangkrik setiap malam. Itu hanya berhenti beberapa jam selama laki-laki itu tenggelam dalam kantuk.

Pria itu bahkan rutin bangun tiap tengah malam, untuk kembali sarapan saat paginya. Orang-orang bilang ia selalu berkunjung ke rumah biduan nakal dan lelaki lapar bertemu. Setelah pria itu terpenuhi dahaganya, ia pulang untuk memalak makanan pagi dari perempuan yang ia nikahi. Uweung tahu Patimah memang tak pernah mau berdiam diri. Bagaimanapun, Patimah adalah istrinya. Ia selalu melawan, meminta keadilan. Tapi apalah, tentang perempuan gubuk itu baginya hanya kicauan burung meronta di sangkar ketika ia sedang sakit gigi. Nyanyiannya tak indah sama sekali, hanya kicauan yang mengusik pagi. Maka ia bisa dengan mudah dan senangnya melumat tulang-tulang kecil burung itu jika ia merasa terganggu. Habislah Patimah yang tak punya kuasa lagi. Habislah Patimah yang hati dan jantungnya telah dicincang dan diiris tipis. Tubuhnya habis diremuk kayu kelapa yang telah jadi tersangka bisu komplotan si bengis.

Patimah lumpuh. Ia disembunyikan di gubuk itu bersama Uweung yang masih bau kencur. Kini beban bertambah dipikulnya. Mengurus ibunya, juga lelaki gila yang takkan pernah ia panggil bapak lagi. Uweung mulai mengenal kebencian. Ia benci lelaki. Maka semenjak itu ia terus menanti waktu, hari baik. Menanti ibunya sekarat, maka sebilah besi yang bertahun ia tajamkan akan memulai pemberontakan.

Tak perlu waktu lama, luka ibunya makin membusuk. Memakan habis daging dan nyawa ibu karena dibiarkan tak diobati. Malam itu juga, Uweung membiarkan si gila habis-habisan melukai tubuh remaja Uweung hingga lelah. Biar. Uweung bahkan menikmatinya karena itu akan jadi luka terakhir dari si gila. Ketika malam di peraduannya bersama pagi, besi tajam itu melakukan tugasnya. Si gila meronta dan terkapar, dengan luka sayatan dalam di lehernya. Tak ada lagi yang bernyawa di gubuk itu selain Uweung.

***

“Anak cantik, berbahagialah. Cukup aku yang memakan taik kehidupan,” aku sempat mendengarnya bicara sendiri suatu malam. Ketika ia duduk di atas kursi kayu sambil menatap ke luar jendela saat malam pernikahanku. Rumah itu telah siap dengan berbagai dekorasi putih dan merah muda. Semua lampu dinyalakan, terang. Tapi hanya Uweung yang terlihat suram. Saat itu dua puluh tahun sebelum aku mengerti, apa yang menjadi gerutu sepinya kala itu. Ah, ibuku. wanita tua kelelahan dengan pilunya sendiri.

***


Cianjur, 2016.

Tidak ada komentar: