Rabu, 27 Juli 2016

Shelter Tepi Jalan

Kota ini begitu pengap. Aku bahkan tak bisa mengintip langit dari balik pelukan bangunan-bangunan berusia. Hujan tertahan atap-atap rumah, lalu berguling dan terpeleset di ujung genting, tangga, dan punggung kendaraan. Jatuh di atas aspal, juga pada sungai-sungai mampet. Hanya dari celah antara rumah dan gedung aku bisa mencicipi titik-titik hujan yang kesepian. Tak ada yang tahu aku, yang berusaha membasuh rindu.

Jalan kecil ini, bau ini, perasaan ini. Layaknya kembali ratusan hari silam. Saat aku menginjak jejak kakimu yang kamu tinggalkan di atas trotoar. Saat kau membelakangiku, berlari kecil untuk menghindari hujan. Aku diam sejenak untuk merasakan kesejukan yang hujan berikan padaku saat itu. Kututup mataku. Dingin.

Kamu menoleh.

“Ayo, Seruni. Jangan dulu tenggelam dalam hujan.”

Mungkin kau benar. Sebaiknya aku segera menyusulmu. Berteduh di bawah shelter tepi jalan, dan menikmati air ini bersamamu.

Langkah pertamaku. Sambut aku.

***


Ismie Hilaly, di kota kelahiran kami, Cianjur. 2016.