Kota
ini begitu pengap. Aku bahkan tak bisa mengintip langit dari balik pelukan
bangunan-bangunan berusia. Hujan tertahan atap-atap rumah, lalu berguling dan
terpeleset di ujung genting, tangga, dan punggung kendaraan. Jatuh di atas
aspal, juga pada sungai-sungai mampet. Hanya dari celah antara rumah dan gedung
aku bisa mencicipi titik-titik hujan yang kesepian. Tak ada yang tahu aku, yang berusaha membasuh rindu.
Jalan
kecil ini, bau ini, perasaan ini. Layaknya kembali ratusan hari silam. Saat aku
menginjak jejak kakimu yang kamu tinggalkan di atas trotoar. Saat kau
membelakangiku, berlari kecil untuk menghindari hujan. Aku diam sejenak untuk
merasakan kesejukan yang hujan berikan padaku saat itu. Kututup mataku. Dingin.
Kamu
menoleh.
“Ayo, Seruni. Jangan dulu tenggelam dalam hujan.”
Mungkin kau benar. Sebaiknya aku segera menyusulmu. Berteduh di bawah shelter tepi jalan, dan menikmati air ini bersamamu.
Langkah pertamaku. Sambut aku.
***
Ismie Hilaly, di kota kelahiran kami, Cianjur. 2016.